15%

Sanksi Untuk Hakim Yang Tidak Adil

19-Sep-2022

Arus Hukum. Hakim adalah profesi yang terhormat dan mulia. Seseorang bisa dihukum atau dibebaskan atas keputusan hakim. Karena itu, profesi hakim harus dijalankan oleh mereka yang punya latar belakang pendidikan yang baik, berintegritas, jujur, dan juga adil karena dia adalah pejabat yang memimpin persidangan untuk memutuskan perkara dengan seadil adilnya.

Tugas utama Hakim menyelesaikan perselisihan hukum secara final dan terbuka, secara tidak langsung hakim menegaskan adanya supremasi hukum. Hakim sebagai pejabat negara mempunyai wewenang kekuasaan yang signifikan dalam pemerintahan. Mereka mengawasi prosedur persidangan yang diikuti, dengan tujuan untuk memastikan konsistens, ketidakberpihakan, dan juga penyalahgunaan wewenang. Selain itu hakim dapat memberikan perintah pada militer, Polisi, atau pejabat pengadilan agar proses penyelidikan berjalan dengan lancar. Perintah dapat berupa penggeledahan, penangkapan, pemenjaraan, gangguan, penyitaan, deportasi, dan tidak kriminal lainnya. Adapun pengadilan banding dan pengadilan tertinggi yang mempunyai kekuasaan lebih tinggi dari hakim, mereka dapat meriksa kekuasan seorang hakim.

Dalam persidangan di Pengadilan Jakarta Timur yang mendakwa para Ulama (Ust. Farid Okbah MA, Uat.DR. Zain An Najah , Ust DR. Anung Alhamat) setelah pembacaan dakwaan, eksepsi penasihat hukum, tanggapan JPU atas eksepsi (replik) dan selanjutnya pada hari rabu (21/9/2022) majlis hakim akan membacakan putusan sela. 

Putusan sela merupakan putusan yang belum menyinggung mengenai pokok perkara yang terdapat didalam suatu dakwaan. Dalam hal ini berkaitan dengan suatu peristiwa apabila terdakwa atau penasihat hukum mengajukan suatu keberatan bahwa pengadilan tidak berwenang mengadili perkaranya atau dakwaan tidak dapat diterima atau surat dakwaan harus dibatalkan. Dalam hukum acara pidana perihal mengenai putusan sela ini dapat disimpulkan dari Pasal 156 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP)

Kalau melihat dakwaan Jaksa Penuntut Umum atas tuduhan teroris kepada para Ulama,  Penasihat Hukum tidak melihat sama sekali bukti bukti bahwa kliennya terlibat tindak pidana terorisme sebab tidak ada bukti sama sekali para terdakwa akan melakukan pengeboman atau pembelian amunisi bahan bom,  para ulama mengerti juga nggak masalah masalah seperti itu tapi dipaksakan bahkan barang bukti silet aja tidak ada, jadi kasus ini ditenggarai sebuah rekayasaa sesuai pesanan pihak tertentu yang ingin menghancurkan Islam, jadi seharusnya hakim membebaskan atau tidak melanjutkan kasus ini sebab kalau hakim melanjutkan maka akan tambah kentara bahwa tuduhan kepada para Ulama hanya rekayasa pihak pihak yang 
anti Islam.

Ketika Hakim melanjutkan kasus ini maka diduga keras ada kolaborasai antara hakim dan jaksa dalam perkara ini sewnakin kental sebab tuduhan jaksa sama sekali tidak menunjukan bukti bahwa para tersangka telah berbuat atau merencanakan teror sehinga kitapun akan segera tahu apa yang akan terjadi kepada para terdakwa, sudah bisa diprediksi Hakim akan berbuat tidak adil kepada para terdakwa bisa jadi hakim akan menghukum orang tidak bersalah dan ini masalah besar untuk hakim karena dia sudah berbuat dzalim. 

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan, jika hakim tidak memutuskan dengan keadilan, maka setan akan menjadi kawannya.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي أَوْفَى قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ اللَّهَ مَعَ القَاضِي مَا لَمْ يَجُرْ، فَإِذَا جَارَ تَخَلَّى عَنْهُ وَلَزِمَهُ الشَّيْطَانُ
Dari Abdullah bin Abi Aufa, dia berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allâh bersama hakim selama dia tidak menyimpang, jika dia menyimpang Allâh meninggalkannya, dan syaitanpun menemaninya.”(HR: At Tirmidzi)

Bahkan lebih dahsyat dari itu adalah bahwa banyak hakim masuk neraka, karena penyimpangannya atau karena kebodohannya. Oleh karena inilah perbuatan hakim yang membuat keputusan yang menyimpang dari kebenaran merupakan dosa besar.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْقُضَاةُ ثَلَاثَةٌ، اثْنَانِ فِي النَّارِ، وَوَاحِدٌ فِي الْجَنَّةِ: رَجُلٌ عَلِمَ الْحَقَّ فَقَضَى بِهِ فَهُوَ فِي الْجَنَّةِ، وَرَجُلٌ قَضَى لِلنَّاسِ عَلَى جَهْلٍ فَهُوَ فِي النَّارِ، وَرَجُلٌ جَارَ فِي الْحُكْمِ فَهُوَ فِي النَّارِ

Hakim-hakim itu ada tiga, dua di neraka dan satu di surga: Seorang hakim yang mengetahui kebenaran, lalu dia memutuskan hukum dengan kebenaran, maka dia di surga; Seseorang (hakim) yang memutuskan hukum dengan kebodohan, maka dia di neraka; Dan seorang (hakim) yang menyimpang di dalam keputusan, maka dia di neraka” (HR: Ibnu Majah, Abu Dawud, At Tirmidzi)

Maka para hakim hendaklah waspada, serta senantiasa berusaha mencari keridhaan Allâh dan itulah yang lebih utama dibandingkan kesenangan dunia yang sementara. Memberikan putusan yang benar berdasarkan syari’at-Nya itu yang menjadi kewajiban mereka. Allâh Azza wa Jalla memerintahkan para penguasa untuk memutuskan perkara dengan kebenaran dan keadilan. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا
Sesungguhnya Allâh menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allâh memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allâh adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (An-Nisa - 58).

Semoga Allâh selalu menjauhkan kita dari segala keburukan dan memudahkan kita di dalam kebaikan....aamiiin.

Bumi Banten, 20 September 2022 Abdullah Al Faqir/AS/Red

 

 

Topik : Aksi Ummat Aksi KAMI

Artikel yang mungkin Anda suka