15%

Menteri Agama Akui Dirinya Lakukan Sunatan Masal Dana BOS Madrasah Se Indonesia

10-Sep-2020

Fahrur Razi Mentrri Agama (Baju Batik)

Arus Nasional. Makin amburadul saja kabinet Indonesia Maju yang dipimpin oleh Joko Widodo selaku Presiden Republik Indonesia. Banyak para menteri nya yang bicara membuat resah rakyat Indonesia. Sebut saja Menag (Menteri Agama) Fachrul Razi. 

Sejak dirinya menjabat, teramat banyak pernyataannya yang keluar dari mulutnya melukai hati ummat Islam. Belum lama ini viral dimedia, Fachrul Razi selaku Menag mengatakan" Pintu Radikalisme bermula dari para penghafal Al-Qur'an (Hufadz). Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi menarik ucapannya terkait paham radikal masuk melalui orang berpenampilan menarik atau good looking dan memiliki kemampuan agama yang baik. MUI menilai pernyataan Fachrul itu sangat menyakitkan.

"MUI minta agar Menag menarik semua tuduhannya yang tak mendasar karena itu sangat menyakitkan dan mencederai perasaan umat Islam yang sudah punya andil besar dalam memerdekakan negara ini dan mengisi kemerdekaan dengan karya nyata," kata Wakil Ketua MUI, Muhyiddin Junaidi, kepada wartawan, Jumat (4/9/2020) (Dilansir dari detik.com 4/9/2020).

Prof. Ahmad Zahre 

Bahkan Ulama ternama yang berasal dari Jawa Timur Prof. DR. Ahmad Zahre dalam ceramahnya kemarin di Masjid Al-Bahri Lamongan Jatim menuturkan" Pak Menteri Agama, jika panjenengan tidak meminta maaf dan mengakui kesalahan nya atas pernyataan yang menyakiti para hufadz (Pengahafal Qur'an). Tunggu, mereka akan mengadu pada-NYA bahwa para hufadz telah difitnah sebagi jendela awal radikalisme. Demi Alloh, para hufadz yang jumlahnya ratusan ribu itu akan berdoa pada Alloh dan akan terjadi doa dahsyat untuk bapak. Lah para hufadz itu keluarga-NYA Alloh SWT"ungkap nya geram.

Kali ini Fachrul Razi kembali berulah. Di saat rapat dengar pendapat bersama Ketua Komisi VIII DPR Yandri Susanto. Yandri menyecar terkait adanya laporan pemotongan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) bagi sekolah madrasah di bawah naungan Kementerian Agama sebesar Rp100 ribu per siswa selama pandemi Covid-19.

Hal tersebut Ia temukan berdasarkan banyaknya laporan dan protes dari masyarakat yang ditujukan kepada Komisi VIII DPR.

“Saya minta dengan hormat, Pak Menag tak melakukan sunatan (pemotongan) dana BOS. Bahwa katanya tak ada pemotongan bos ternyata ini ada pesan Whatsapp-nya viral. Hal ini sepertinya kita anak tirikan madrasah swasta yang dipotong per siswa,” ungkap Yandri saat mengikuti rapat kerja dengan Menteri Agama di Kompleks MPR/DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (8/9/2020).

Yandri pun menmbahkan kondisi madrasah di luar kondisi pandemi Covid-19 saja sudah mengalami kesulitan secara finansial. Saat ini penderitaan itu ditambah lagi dengan pemotongan sebesar Rp 100 ribu/siswa. Kembali Yandri menegaskan bahwa Komisi VIII sendiri tak pernah tahu dan menyetujui dana BOS madrasah di potong oleh Kemenag.

“Ini jadi seolah-olah Komisi VIII menyetujui pemotongan BOS per siswa. Gara-gara Rp2 triliun dipotong saya kira anda orang yang ngerti agama, makanya ditunjuk Presiden sebagai Menteri Agama. Eeh ternyata Menag nya gak punya otak. Ga punya rasa pedulian terhadap orang miskin,” ungkapnya geram

Selaras dengan Yandri, Wakil Komisi VIII DPR Ace Hasan Syadzily menegaskan sejak awal pihaknya telah meminta agar dana BOS bagi madrasah jangan di utak-atik oleh Kemenag. Sebab, saat ini madrasah sangat membutuhkan bantuan di tengah pandemi Covid-19.

“Ini kan disangkanya kami Komisi VIII menyetujui potongan itu. Itu harus diketahui pak Menteri,” geram Ace.

“Kita tegas supaya jangan ada apapun soal BOS. Bahkan dialihkan aja kita keberatan,” tambahnya.

Saat Fachrul Razi diberikan kesempatan berbicara. Menteri Agama Fachrul Razi sendiri mengakui bila pihaknya melakukan pemotongan anggaran dana BOS. Hal tersebut dilakukan untuk menindaklanjuti surat dari Kementerian Keuangan terkait langkah-langkah penyesuaian belanja Menteri Agama tahun 2020.

“Ditjen Pendidikan Agama Islam mendapat penghematan atau pemotongan anggaran sebesar Rp 2,02 triliun,” kata Fachrul.

Fachrul memutuskan untuk menganulir pemotongan dana BOS bagi madrasah dalam anggaran Kementerian Agama tahun 2020. Ia memastikan dana BOS Madrasah dan Pesantren tahun 2020 tetap naik.

“Saya tegaskan, dana BOS madrasah dan pesantren tahun 2020 tetap naik 100 ribu rupiah sesuai rencana awal,” tutur Fachrul Rzi. Anggaran BOS Madrasah dan Pesantren pada DIPA Kemenag tahun 2020 direncanakan mengalami peningkatan unit cost.

Dalam data yang berhasil dihimpun team Arusnews, untuk Madrasah Ibtidaiyah (MI), naik dari Rp800.000 per siswa menjadi Rp900.000/siswa di tahun 2020. Sementara Madrasah Tsanawiyah (MTs), naik dari Rp1 juta menjadi 1,1 juta per siswa (2020).

Sementara, BOS Madrasah Aliyah (MA) dan MA Kejuruan (MAK), naik dari Rp1,4 juta per siswa menjadi 1,5 juta per siswa (2020). Total kenaikan anggaran Bos Madrasah berjumlah Rp874,4 miliar.

Alokasi yang sama untuk Pesantren Ula (setingkat MI), Wustha (MTs), dan ‘Ulya (MA), anggarannya naik Rp100ribu untuk setiap santri. Sehingga, total kenaikan anggaran BOS Pesantren berjumlah Rp16,47 Miliar.

Alie/Red

Topik : Moral Bejad

Artikel yang mungkin Anda suka