15%

Nining Digugat Nurmawati Di PN Depok, Diduga Gunakan Barbuk Palsu & Syarat Keanehan

26-Jul-2022

Arus Depok. Makin serunya persidangan terkit kasus wanprestasi pengadaan PO Minyak Goreng,
Nur Fitrianingsih (tergugat 1) VS Nurmawati. Aneh bin ajaibnya gugatan kepada Nur Fitrianingsih diduga menggunakan barang bukti kwitansi palsu.

Dalam penuturannya kepada awak media Arusnews, Nining sapaan akrab menuturkan, Selasa (26/7/2022) "Ada barang bukti berupa kwitansi yang disertakan dalam persidangan oleh penggugat, tapi bukan saya yang tulis kwitansi tersebut, bukan tulisan saya, beda banget tulisannya," tuturr Nining ditemui pasca menjalani sidang perkara nomor 105/Pdt.G/2022/PN Dpk di Pengadilan Negeri Depok, Selasa (26/7/2022).

Kwitansi Diduga Palsu

Nining, menambahkan bahwa pada awal bisnis Minyak Goreng serta Sembako berjalan dengan lancar selama dua tahun. Dan pada Bulan Agustus 2021, ada kenaikan harga Minyak Goreng yang luar biasa, mencapai 50-100 persen sehingga usaha yang dijalani mengalami kebangkrutan.

"hingga berujung saya dilaporkan hingga jalani persidangan dalam gugatan wanprestasi saat ini," geramnya.

Dia menilai ada kejanggalan dalam bukti-bukti yang digunakan oleh penggugat dalam menggugat, misalnya penulisan tanggal dan bahasa yang aneh.

"Ada data yang salah dari penggugat. Misalnya nama orang, penulisan tanggal yang tidak berurutan dan bahasa yang aneh. Saya juga sempat mengalami pengancaman dari pihak penggugat dengan kata-kata 'gua ga bakal lepasin lu'," tuturnya.

Dalam persidangan yang dijalaninya, Ia berharap majelis hakim dapat berlaku adil dengan menerima bukti dari dirinya sebagai pertimbangan keputusan.

"Barang bukti saya ditolak dengan alasan memakai Flash Disk. Sedangkan saya baca di google, sejak diundangkan Undang-Undang Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) Flash Disk merupakan dokumen elektronik," ungkapnya.

Dirinya pun menginginkan pengembalian aset berupa Girik milik keluarga yang saat ini ada ditangan penggugat.

"Yang jelas, pulangkan dulu Girik dengan nama almarhum bapak yang menjadi hak keluarga saya. Gugatlah secara pribadi tanpa menyita aset milik keluarga. Bahkan saya bersedia jika majlis hakim menguji saya menulis dengan kalimat yang sama seperti kwitansi dan tanda tangan. Kan bisa dilihat guratan serta tarikan tanda tangan akan jelas palsu atau aslinya kwitansi trrsebut. Juga Saya akan bertanggung jawab," tandasnya.

Dalam kesempatan terpisah, Aktivis dan praktisi hukum Dalam persidangan pada hari Selasa (26/7/2022) saat sidang perkara nomor 105/Pdt.G/2022/PN Dpk di Pengadilan Negeri Depok, penggugat diduga menggunakan Kwitansi Palsu sebagai alat bukti.

Saya memandang persidangan kemarin itu penuh tanda tanya. Seharusnya, alat bukti yang diserahkan berbentuk asli semua yakni kwitansi harus asli. Dan menurut saya, ini cacat hukum yang harus dipertanyakan secara tertulis atau secara lisan kepada pihak majelis hakim kenapa perkara ini bisa naik ke P21 sedangkan berkas yang disampaikan tidak asli," ujar Erik Yansen Sihotang 
Ru/Red

Topik : Perlindungan Hukum Depok

Artikel yang mungkin Anda suka