15%

POLRI Brutal, Demonstran & Wartawan Pun Jadi Korban. KAPOLRI Jangan Tutup Mata

01-Oct-2019

Arus Jakarta. Unjuk rasa yang terjadi di negara ini sudah mulai meluas. Bukan hanya para mahasiswa yang melakukan aksi demo. Tak mau tertinggal emak-emak juga pelajar SMK (STM dulu) ikut lakukan aksi Demo menolak kebijakan jurnalis
 hingga aksi Pernyataan sikap untuk Jokowi mundur.

Hampir semua medsos (FB, Instagram, Twiter, Dll) bahkan media Online seperti www.arusnews.id turut menyoroti ke brutalan POLRI dalam menghadapi Demonstran. 

Aparat POlRI Memisahkan Paksa Mahasiswa Dari Barisan Demonstran Lainnya (Di Sinyalir Di Culik).

Saat Polisi Menyeret Paksa Salah Satu Demonstran Di pisahkan Dari Demonstran Lainnya.

Demonstran Yang Sudah Menyebutkan Kalimat Tauhid (La Ilaaha Illalloh) Polisi Terus Mencekiknya Tanpa Ampun.

Bentuk Ke Biadaban Polisi Yang Tak Kenal Kalimat Tauhid.

Namun ironi, Profesi seperti wartawan turut mendapat perlakuan semena-mena dari aparat kepolisian. Ini terjadi ketika seorang wartawan hendak meliput saat aksi demo berlangsung. Padahal POLRI selaku aparat penegak hukum seharusnya menjadi institusi penegak undang-undang yang jelas-jelas tindakan tersebut melanggar Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999 yang menerangkan bahwa menghalangi tugas wartawan akan dikenakan kuruangan penjara selama dua tahun dan atau denda Rp500 juta.Senin (30/9/2019).

Perlakuan kali ini terjadi pada wartawan media Sinar Pagi bernama Haryawan. Haryawan menjadi korban di pukuli hingga babak belur di dalam Markas Polda Metro Jaya, Senin (30 /09/2019).

Menurut Hermawan, saat hendak akan pulang usai liputan dan selesai shalat Isya di dalam Masjid Al-Kautsar yang berada di Polda Metro Jaya, saat akan keluar dari Markas Polda Metro Jaya Haryawan melihat banyak anggota kepolisian sedang ribut ribut.

Heryawan Wartawan Sinar Pagi Turut Jadi Korban Ke Brutalan Anggota POLRI Di MAPOLDA Metro Jaya.

Saya selesai Sholat Isya hendak pulang, sebelum pintu keluar depan Minimarket ada keramaian banyak anggota polisi kemudian saya ambil gambar dan video ” ujar Haryawan kepada wartawan.

Namun pada saat mengambil gambar dengan kamera. Haryawan diminta petugas untuk menghapus rekaman dan foto yang diambilnya.

“Saya bilang dari wartawan sinar pagi , tapi tetap saja petugas memaksa minta dihapus,” ujar Hary.

Haryawan tak mau bersitegang dengan aparat, Haryawan menuruti permintaan petugas karena ancaman dan paksaan.

“Saat lagi berusaha menghapus, mereka (polisi) memukul saya beramai-ramai. Ada yang memukuli dari belakang ada yang jenggut rambut saya, Tonjok kencang-kencang mata saya sebelah kanan sampai darah mengucur,” ungkap Haryawan.

Melihat suasana tegang, kemudian korban berhasil melarikan diri dari hantaman serta pukulan anggota kepolisian dan berharap ada pertolongan.

“Saya berlari sembari berusaha menyelamatkan diri ke arah Humas PMJ dengan harapan selain ada yg kenal mudah-mudahan ada yang berpangkat atau komandan yang bisa menolong,” tuturnya.

Korban kemudian berlindung di Balai Wartawan Polda Metro Jaya dan berharap ada pertolongan.

“Untuk sementara demikian, karena kepala senut-senut, mata kanan darah masih netes-netes. Hp dan kunci motor saya juga hilang,” jelas Haryawan sambil meringis.

Padahal sebelumnya melalui Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo menegaskan, personel anggota kepolisian tidak diperbolehkan menghalangi tugas kerja jurnalistik.

Kepala Pun Bocor Heryawan Wartawan Sinar Pagi.

Kami (Mabes Polri) menekankan untuk personel di lapangan agar tidak menghalang-halangi kerja jurnalis ” ujar Dedi Prasetyo, Kamis (26/9/2019) lalu.

Dedi juga mengatakan bahwa jurnalis dilindungi oleh undang-undang. “Yang jelas, enggak boleh mengintervensi media. Media dilindungi (Undang-Undang)” tegasnya.

Dedi juga mengimbau kepada jurnalis di lapangan agar mengenakan tanda pengenal (kartu pers) yang bisa dilihat jelas oleh personel kepolisian.

“Untuk rekan media gunakan tanda pengenal saat di lapangan, salah satunya rompi bertuliskan Pers,” ucapnya.

Namun kenyataannya anggota kepolisian di lapangan seakan tidak mendengarkan dan terkesan acuh pada instruksi pimpinan .

Diharapkan Kapolda Metro Jaya, Kabid Propam dan Mabes Polri menanggapi masalah Kekerasan yang terjadi terhadap jurnalis.
Red

 

Topik : POLRI

Artikel yang mungkin Anda suka