15%

Apakah Jokowi Ulil Amri..?

28-Mar-2022

Arus Cerah. Pengertian “Imam” atau “Ulil Amri” menurut manhaj ahlus sunnah dan metode penetapannya.
Imam atau ulil amri menurut ahlus sunnah adalah siapa saja yang bisa mewujudkan maksud kepemimpinan dan kekuasaan. Maksudnya, dia memiliki power dan kekuasaan, sehingga dia memaksa orang lain untuk mentaatinya dan mentaati perintahnya, serta untuk melaksanakan keputusan-keputusannya. Juga terwujud dengannya maslahat banyak orang, dan juga tugas-tugas kepemimpinan yang lain.

Abul Hasan Ibnu Az-Zaaghuni rahimahullahu Ta’ala mengatakan,
“Maksud adanya imam (pemimpin) adalah terjaganya urusan politik secara syar’i; tegaknya kebenaran dengan keadilan; diaturnya urusan negara dan masyarakat sehingga dapat terwujud kebaikan (maslahat); terjaganya daerah perbatasan dan tentara sehingga dengannya agama menjadi mulia dan tersebarlah kebenaran; hancurnya  kebatilan, kekafiran, kebid’ahan dan kedzaliman; serta tercegahnya orang-orang yang berbuat dzalim dan membantu orang-orang yang didzalimi; dan (tujuan-tujuan kepemimpinan) lainnya sehingga menjadi teraturlah urusan masyarakat secara umum.” (Al-Idhaah fi Ushuulid Diin, hal. 601).

Jadi Ulil Amri itu adalah:

1. Seorang pemimpin Muslim
2. Punya power dan kekeuasaan
3. Terwujudnya kemaslahatan ummat
4. Terjaganya politik secara Syar’i
5. Tegaknya kebenaran dan keadilan
6. Terjaganya perbatasan oleh tentara sehingga agama menjadi mulia dan tersebarlah kebenaran
7. Dengannya maka hancurnya kebatilan, kekafiran, kebidahan dan kedzaliman sehingga teraturlah kehidupan masyarakat

Itulah Ulil Amri yang wajib kita taati selama tidak memerintahkan kepada kemaksiatan dan tidak ada ketaatan dalam rangka bermaksiat kepada Allah, sebagaimana sabda Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: 

‎عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيْمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ، إِلاَّ أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ، فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ، فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ. 

“Wajib atas seorang Muslim untuk mendengar dan taat (kepada penguasa) pada apa-apa yang ia cintai atau ia benci kecuali jika ia disuruh untuk berbuat kemaksiatan. Jika ia disuruh untuk berbuat kemaksiatan, maka tidak boleh mendengar dan tidak boleh taat.”(HR: Bukhari, Muslim, At Tirmidzi,Ibnu Majjah, An Nasai, Ahmad)

Rasulullah juga bersabda“ Tidak ada kewajiban ta’at dalam rangka bermaksiat (kepada Allah). Ketaatan hanyalah dalam perkara yang ma’ruf (bukan maksiat).” (HR. Bukhari no. 7257)

Rasulullah juga bersabda" Seorang muslim wajib mendengar dan taat dalam perkara yang dia sukai atau benci selama tidak diperintahkan untuk bermaksiat. Apabila diperintahkan untuk bermaksiat, maka tidak ada kewajiban mendengar dan taat.” (HR. Bukhari no. 714

Pertanyaan yang berkembang di masyarakat apakah Presiden kita hari ini bisa disebut Ulil Amri atau malah sebaliknya bukan Ulil Amri sebagian kecil menganggap dia Ulil Amri tapi sebagian besar menganggap dia bukan Ulil Amri tapi hanya sebatas pemegang otoritas kekuasaan sebab baru terbatas sebagai pemegang kekuasaan sementara fungsi fungsi lainnnya seperti tegaknya kebenaran dan keadlian, terjaganya agama sehingga tersebarnya kebenaraan dll sebagaimana 7 (tujuh) poin diatas belum dilakukan sebagaimana mestinya bahkan berlaku sebaliknya yg tidak sesuai dengan harapan mayoritas Umat Islam di Indonesia

Disamping hal tersebut diatas banyak perilaku Presiden dan teman temannya jauh dari Islam bahkan bukan sekedar maksiat tapi sudah masuk katagori kemungkaran (melanggar perintah Allah/durhaka) dengan nyata dan dirasakan kaum muslimin kedurhakaannya misalnya :
1. Pengakuan para dukun tentang dipakainya mereka untuk hal hal tertentu dlm melanggengkan kekuasaan, ritual penyiraman air kembang ke mobil esemka serta perbuatan kesyirikan lainnya

2. Dibentuknya Islam nusantara sebagai pembengkokan thd ajaran Islam yang murni dengan memasukan budaya lokal kedalam agama.

3. Pendukung utama Presiden mengatakan bahwa surga dan neraka hanya mimpi.

4. Ahok kroninya Jokowi mengatakan jangan mau dibohongi dengan Surat Al maidah ayat 51

5. Keamanan dan kedaulatan Negara diabaikan(masuknya TKA cina dan dibiarkannya pemberontak papua)

6. Persekusi kepada pengurus Masjid, aktivis,Ulama dan Ustadz yang menimbulkan keresahan di masyarakat.

7.Agama dinistakan suara adzan seperti gonggongan anjing , naik haji dipersulit Bahkan dana haji diembat, adalagi penista yang mengatakan 300 ayat Al Qur’an harus dihapus karena jadi sumber radikalisme, malah ada seorang perempuan yang menista Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam dengan mengatakan Nabi Muhammad itu anjing kecil dan Al Qur’an terbuat dari kotoran anjing dll. Tapi para penista ini dibiarkan berkeliaran tanpa diproses secara hukum.

8.Melakukan ritual kesyirikan dan  perdukunan pada event motto GP Mandalika 
9.Dll

Syaikh Shalih Al Fauzan ditanya: “Apakah prinsip ini, khusus untuk untuk penguasa yang berhukum dengan syariat Allah sebagaimana negeri kita yang diberkahi ini, ataukah umum untuk pemerintah kaum muslimin bahkan yang tidak berhukum dengan syariat Allah dan menggantinya dengan qawanin wadh’iyyah (hukum buatan manusia)?” Beliau menjawab: “Allah ‘Azza Wajalla berfirman: مكنم رملأا يلوأو “Dan ulil amri di antara kalian” [QS An Nisa 59].

Maksudnya, dari kaum muslimin. Maka jika dia penguasa itu muslim, tidak kafir kepada Allah dan juga tidak melakukan salah satu dari pembatal-pembatal keislaman, maka dia adalah ulil amri yang wajib ditaati (Sumber: http://www.alfawzan.af.org.sa/node/13289). Di sini beliau menjelaskan bahwa ulil amri itu setiap penguasa muslim secara mutlak baik diangkatnya secara syari’i atau pun tidak sesuai syari’at.

Tidak ragu lagi bahwa bila seorang pemimpin memerintahkan kepada suatu peraturan yang berlawanan dengan kitabullah tidak boleh ditaati. Karena Nabi shallallahu alaihi wasallam melarang kita untuk menaati makhluk untuk memaksiati Allah. Ini adalah pokok yang disepakati oleh kaum muslimin.

Apakah  Presiden jokowi itu ulil amri atau bukan ?, sebab Presiden Jokowi telah melakukan beberapa hal pembatal keisalaman dari sepuluh pembatal keislaman ;

1.Melakukan  ritual perdukunan(Syirik)

2.Membuat perantara antara dirinya dengan Allah (pawang hujan)

3.Tidak memgkafirkan orang orang musyrik, atau meragukan kekafiran mereka, atau membenarkan pendapat mereka

4.Meyakini adanya petunjuk yang lebih sempurna dari Sunnah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam

5. Membiarkan para Penista  Islam tanpa ada proses pemgadilan

6. Memberikan pertolongan kepada orang kafir dan membantu mereka dlm rangka memerangi kaum muslimin (kasus ahok)

7. Meyakini bahwa manusia bebas keluar dari syariat Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam (kasus nikah beda agama)

8. Berpaling dari agama Allah Ta’Ala, ia tidak mempelajarinya, tidak beramal dengannya(kasus megawati bahwa surga itu hanya mimpi)

silahkan renungkan agar kita tidak salah dlm mengambil kesimpulan yang akan berakibat fatal dalam tindakan.

Wallahu ta’ala a’lam.

Referensi:
1.almanhaj.or.id
2.muslim.or.id

Catatan kakiku:

https://www.voa-islam.com/read/citizens-jurnalism/2019/10/24/68004/perbuatan-syirik-saat-jokowi-dilantik/

https://www.voa-islam.com/read/citizens-jurnalism/2019/10/24/68004/perbuatan-syirik-saat-jokowi-dilantik/

https://www.pikiran-rakyat.com/nasional/pr-011894236/ali-ngabalin-keluarkan-dalil-jokowi-boleh-tawarkan-bipang-ambawang-saat-lebaran

https://nasional.tempo.co/read/839379/dilaporkan-ke-polisi-ini-isi-pidato-lengkap-megawati

https://www.merdeka.com/peristiwa/mui-nilai-kutipan-ahok-tentang-surah-al-maidah-hina-alquran-ulama.html

Abdullah Al Faqir/AS/Red

Topik : Jokowi Religi

Artikel yang mungkin Anda suka