15%

Masih Takut Salaman?

19-Jan-2022

Arus Cerah. Copat copit, tupa tipu, gonjang ganjing wabah masih saja digoreng sementara kerumunan dimana mana tidak mengakibatkan cluster anyar contoh jutaan pasar sebagai pusat kerumunan, tak berjarak, sedikit sekali yang pakai masker, tidak ada peduli lindungi, dipasar pernah pemeriksaan suhu beberapa hari sesudah itu raib gak ada lagi.

Kontroversi vaksin berjalan terus rakyat dipaksa paksa untuk divaksin, dijadikan persyaratan macam-macam mulai masuk mall, masuk sekolah, ada razia vaksin di bis-bis umum, sampai anak anak SD pun dipaksa vaksin hingga ada yang meninggal, disamping ada juga vaksin yang haram seperti astraZaneca Dan kontroversi lainnya dimana yang sudah divaksin tidak ada jaminan tidak kena covid lantas ngapain divaksin kalau tidak menjamin seseorang tidak tertular, belum isu bill gate yg mengatakan vaksin ini untuk mengurangi jumlah penduduk dunia sekian tahun kedepan artinya yang sudah divaksin akan meninggal setelah beberapa tahun kedepan.

Covid menjadi hantu disiang bolong yang menakutkan, disusul vaksin yang penuh kontroversi: dipaksa, dipersyaratkan dan tidak ada jaminan tidak tertular bahkan Depkes menenggarai yang sudah lengkap divaksin malah akan kena penyakit, kok kayak teroris yah?,  membuat gaduh, membuat kematian, membuat ketakukan. 

Harusnya aparat segera bertindak menumpas para teroris ini yang jelas-jelas membuat rakyat sangat ketakutan, merasa diteror.

Isu isu covid dan vaksin dengan sosialisasi yang didukung media mainstream telah berhasil membuat masyarakat menjadi penakut: mau pergi takut, mau ada urusan keluar kota tidak berani, naik pesawat dipersyaratkan vaksin dan test swab dll sampai Masjid masih berjarak dan bermasker, ada juga Masjid program pedui lindungi jadi hanya yang sudah divaksin boleh masuk Masjid layaknya masuk Mall.

Bahkan di Masjid-masjid jamaah satu sama lain tidak mau bersalaman, kalau diajak  bersalaman tangannya mengepal kayak mau tinju ada juga yang ujung jarinya ditempelin dikit padahal mereka keluar masuk Masjid nyemprot Hand sanitizer tetep saja mereka tidak pede saking takutnya, separah inikah keimanan kaum muslimin? menjadi manusia manusia penakut iman-nya melorot (turun) lupa akan kekuasaan Allah, lupa akan takdir baik dan buruk karena isu yang massive dan kotroversi.

Padahal Islam sudah mengajarkan kepada kita sakit, sembuh, hidup dan mati semuanya atas kehendak Allah bukan atas kehendak manusia apabila penduduk seluruh bumi ini akan memudharatkan kita: misalnya kita ada ditengah tengah ribuan penderita covid  maka itu mustahil tertular apabila tanpa izin Allah, sebaliknya apabila kita ada ditengah tengah kerumunan ribuan orang sehat kalau Allah mentakdirkan kita diuji dengan sakit maka kita akan sakit sekalipun tanpa berada ditengah tengah orang yg sakit (penderita covid)

Begitu besar dan agungnya bersalaman tapi dilupakan kaum muslimin padahal bersalaman akan membentuk ukhuwah islamiyah dan menggugurkan dosa-dosa kedua orang yang bersalaman. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz menyatakan: “pada asalnya bersalam-salaman itu disyariatkan ketika bertemu antar sesama muslim. Dan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam biasa menyalami para sahabat nya jika bertemu dan para sahabat juga jika saling bertemu mereka bersalaman. 

Anas bin Malik radhiallahu’anhu dan Asy Sya’bi mengatakan:

‎كان أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم إذا تلاقوا تصافحوا وإذا قدموا من سفر تعانقوا
“para sahabat Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam jika saling bertemu mereka bersalaman, dan jika mereka datang dari safar mereka saling berpelukan”

Dan terdapat hadits shahih dalam Shahihain, bahwa Thalhah bin ‘Ubaidillah (salah satu dari 10 sahabat yang dijamin surga) datang dari pengajian bersama Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam menuju Ka’ab bin Malik radhiallahu’anhu yaitu ketika Ka’ab bertaubat kepada Allah (atas kesalahannya tidak ikut jihad, pent.). Thalhah pun bersalaman dengannya dan memberinya selamat atas taubatnya tersebut. 

Ini (budaya salaman) adalah perkara yang masyhur diantara kaum Muslimin di zaman Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam ataupun sepeninggal beliau. Dan terdapat hadits shahih dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bahwa beliau bersabda:

‎ما من مسلمين يتلاقيان فيتصافحان إلا تحاتت عنهما ذنوبهما كما يتحات عن الشجرة ورقها
“Tidaklah dua orang muslim yang bertemu lalu berjabat tangan, melainkan berguguranlah dosa-dosanya sebagaimana gugurnya daun dari pohon”

Maka dianjurkan bersalam-salaman ketika bertemu di masjid atau di shaf. Jika belum sempat bersalaman sebelum shalat, maka hendaknya setelahnya sebagai bentuk keseriusan mengamalkan sunnah yang agung ini. Diantara hikmahnya juga ia dapat menguatkan ikatan cinta dan melunturkan kebencian. Namun, jika belum sempat bersalaman sebelum shalat, disyariatkan untuk bersalaman setelah shalat yaitu setelah membaca dzikir-dzikir setelah shalat (yang disyariatkan).(muslim.or.id)

Semoga kita menjadi muslim sejati yang bersalaman ketika bertemu sesama muslim dan menebarkan salam sebagai bentuk kasih sayang diantara kita, Sebagaimana hadits dibawah ini (yang artinya): 

Dari Abu Huroiroh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah kalian masuk surga hingga kalian beriman.

Dan tidaklah kalian beriman hingga saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan suatu amalan yang jika kalian kerjakan niscaya kalian akan saling mencintai? Tebarkanlah salam di antara kalian. ”(HR. Muslim)

SEMOGA BERMAMFAAT

Wallahu ta’ala a’lam
Tangsel, 13 Januari 2022
Abdullah Al Faqir/AS.

Topik : Aksi Ummat

Artikel yang mungkin Anda suka